Harga RAM Turun, Tapi Masih Jauh dari Normal

ram--

KORANPRABUMULIHPOS.COM - Harga RAM yang sempat melonjak tajam kini mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Meski begitu, penurunan tersebut masih tergolong tipis dan belum sepenuhnya menandakan berakhirnya krisis di industri memori.

Salah satu faktor yang diduga memengaruhi tren ini adalah hadirnya teknologi baru dari Google bernama TurboQuant. Algoritma tersebut diklaim mampu menekan biaya penggunaan memori hingga enam kali lipat. Selain itu, isu pendanaan yang dihadapi OpenAI juga disebut-sebut ikut memberi dampak pada dinamika harga.

Mengacu pada laporan PC Gamer, salah satu contoh fluktuasi harga terlihat pada produk Corsair Vengeance RGB DDR5-6000 32GB. Sekitar tiga tahun lalu, RAM ini dijual di kisaran USD 90 atau sekitar Rp1,5 juta.

Namun saat krisis melanda, harganya sempat melonjak drastis hingga menyentuh USD 400, bahkan pernah mencapai penawaran tertinggi sekitar USD 440. Harga tersebut bertahan cukup lama hingga awal Maret 2026 sebelum akhirnya turun ke kisaran USD 370.

Penurunan ini memang cukup signifikan jika dibandingkan dengan puncaknya, tetapi masih jauh dari harga normal. Meski begitu, kondisi ini setidaknya memberi sedikit kelegaan bagi gamer maupun pengguna PC yang ingin melakukan upgrade.

Menariknya, produk DDR5 dari Corsair disebut-sebut relatif lebih murah dibandingkan banyak modul memori lain di pasaran. Hal ini bisa menjadi alasan mengapa penurunan harga lebih terlihat pada produk tersebut. Namun, jika melihat merek lain, tren penurunan harga belum begitu terasa.

Di sisi lain, kondisi industri semikonduktor secara keseluruhan masih belum stabil. SK Hynix memprediksi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan chip akan terus berlanjut hingga 2030.

Ketua SK Group, Chey Tae-won, menyatakan bahwa rantai pasok memori dan chip silikon belum akan pulih dalam waktu dekat. Ia menilai kekurangan pasokan masih akan terjadi, terutama karena lonjakan permintaan dari perusahaan teknologi besar dan pengembangan data center berbasis AI.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam ajang NVIDIA GTC 2026 di San Jose, Amerika Serikat. Dalam forum itu, ia juga menyoroti bahwa industri saat ini belum mampu mengimbangi permintaan yang terus meningkat.

Selain faktor permintaan, situasi geopolitik global turut memperparah kondisi. Gangguan rantai pasok, termasuk insiden pada fasilitas produksi gas helium—komponen penting dalam pembuatan chip menambah tekanan pada industri.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pelaku industri diperkirakan masih harus menghadapi periode panjang keterbatasan pasokan, seiring meningkatnya kebutuhan teknologi berbasis AI di masa depan. (*)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan
IKLAN
PRABUMULIHPOSBANNER