Mati Suri tapi Berpotensi Bangkit: 7 Waralaba Film yang Pantas Direboot
Mati Suri tapi Berpotensi Bangkit: 7 Waralaba Film yang Pantas Direboot--
KORANPRABUMULIHPOS.COM - Dalam dunia perfilman Hollywood yang terus menggali kembali intellectual property lama, beberapa waralaba tetap bertahan selama puluhan tahun, sementara sebagian lain justru meredup terlalu cepat. Ada yang tumbang akibat sekuel buruk, ada pula yang tersandung performa box office. Padahal, banyak dari waralaba tersebut memiliki potensi besar untuk kembali hidup lewat reboot atau kelanjutan cerita yang lebih matang.
Mengutip laporan ComicBook.com, berikut tujuh waralaba yang dinilai masih menyimpan peluang besar untuk dihidupkan kembali.
1. Sinister (2012)
Film pertama Sinister menjadi salah satu horor low-budget paling sukses, digarap Scott Derrickson dengan biaya hanya USD 3 juta dan menghasilkan lebih dari USD 87 juta di seluruh dunia. Sosok iblis Bughuul dan rekaman snuff bergaya found footage membuat film ini memorable dan menakutkan.
Sayangnya, Sinister 2 gagal total secara kritik maupun pendapatan, membuat waralaba ini mati muda. Dengan maraknya kebangkitan film horor berkualitas saat ini, Sinister masih sangat layak mendapatkan reboot yang lebih atmosferik dan kembali ke akar horornya.
2. A Nightmare on Elm Street
Karya klasik Wes Craven pada 1984 ini memperkenalkan ikon horor legendaris, Freddy Krueger. Setelah delapan film utama dan satu crossover dengan Jason Voorhees, upaya reboot tahun 2010 justru melemahkan citra Freddy dan gagal menangkap teror psikologis khas film pertama.
Lebih dari satu dekade berlalu tanpa proyek baru, padahal konsep mimpi buruk dan trauma yang bisa dieksplorasi sangat luas. Waralaba ini masih menunggu reboot yang berani dan setia pada nuansa gelap versi orisinalnya.
3. Hitman
Adaptasi dari game populer Hitman sudah dua kali mencoba peruntungan di layar lebar—versi 2007 (Timothy Olyphant) dan reboot 2015 (Rupert Friend). Keduanya gagal memuaskan penggemar maupun kritikus.
Padahal karakter Agent 47 memiliki potensi besar untuk diangkat sebagai thriller aksi kelas atas dengan elemen spionase dingin dan penuh perhitungan. Dengan sutradara yang tepat, Hitman bisa bersaing dengan waralaba seperti John Wick atau Mission: Impossible.
4. The LEGO Movie
Kesuksesan The LEGO Movie (2014) dan The LEGO Batman Movie (2017) membuat banyak orang yakin waralaba ini akan panjang umur. Kedua film tersebut dipuji karena humor cerdas, kreativitas visual, dan pesan emosionalnya.
Namun dua proyek lanjutan berikutnya kurang memuaskan, dan The LEGO Movie 2 juga tak mampu mengulang kejayaan film pertama. Sejak perpindahan lisensi ke studio baru, peluang munculnya The LEGO Movie 3 terbuka, memberi harapan penutup cerita Emmet dan kawan-kawan yang lebih layak.
5. 300
Film 300 (2006) besutan Zack Snyder mempopulerkan gaya visual nyentrik dengan palet warna kontras dan slow-motion dramatis. Meski sekuel 300: Rise of an Empire (2014) sempat hadir, dunia perang kuno bergaya komik Frank Miller masih menyimpan banyak ruang untuk eksplorasi.
Rumor menyebut Snyder tertarik kembali lewat serial prekuel, format yang ideal untuk menggali lebih dalam mitologi Sparta dan konflik besar sebelum film pertama.
6. 21 Jump Street
Di tangan Phil Lord dan Chris Miller, 21 Jump Street dan 22 Jump Street menjadi komedi-aksi yang sukses besar, berkat chemistry luar biasa Channing Tatum dan Jonah Hill. Meski berada di puncak kejayaan, waralaba ini berhenti tanpa ada film ketiga.
Padahal, karakter Schmidt dan Jenko punya dinamika yang terlalu sayang untuk ditinggalkan. Baik sekuel langsung maupun spin-off—termasuk konsep 23 Jump Street versi perempuan yang pernah direncanakan—masih memiliki peluang besar berhasil.
7. The Man from U.N.C.L.E. (2015)
Film mata-mata karya Guy Ritchie ini memadukan gaya retro 60-an, musik keren, dan chemisty memikat Henry Cavill serta Armie Hammer. Meski mendapat banyak pujian, performa box office yang kurang membuat rencana sekuel terhenti.
Padahal film ini menawarkan pendekatan segar terhadap genre spionase yang sering terlalu serius. Dengan gaya lukisan visual yang elegan, waralaba ini masih pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Waralaba-waralaba di atas membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir. Dengan visi kreatif yang tepat, film-film yang sempat “mati suri” bisa kembali menjadi hit besar dan menemukan penontonnya di era baru. (*)

