Diburu 13 Tahun! Fakta Menarik Rafflesia hasseltii yang Kini Jadi Polemik
Momen Haru Penemuan Rafflesia hasseltii, Ternyata Simpan Pesan Penting untuk Konservasi--
KORANPRABUMULIHPOS.COM - Heboh soal klaim temuan Rafflesia hasseltii oleh Universitas Oxford belakangan memicu perdebatan publik. Penemuan ilmiah yang seharusnya memperkaya pengetahuan justru menimbulkan kontroversi karena Oxford tidak menyebutkan kontribusi ilmuwan Indonesia dalam publikasinya.
Dalam unggahan di media sosial, Oxford hanya menampilkan penelitinya, Chris Thorogood, padahal riset tersebut dilakukan bersama peneliti dari program RIIM Ekspedisi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Unggahan itu pun ramai dikritik netizen Indonesia yang menilai seolah-olah penemuan ini sepenuhnya berasal dari tim Oxford.
Lantas, seperti apa sebenarnya Rafflesia hasseltii dan bagaimana proses penemuannya?
5 Fakta Menarik Seputar Rafflesia hasseltii
1. Ditelusuri Selama 13 Tahun
Riset terhadap Rafflesia hasseltii bukanlah proyek singkat. Tanaman ini ditelusuri selama 13 tahun oleh tim dari The University of Oxford Botanic Garden and Arboretum, peneliti Universitas Bengkulu, serta Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu.
Joko Ridho Witono, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa penelitian tersebut merupakan bagian dari proyek The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia.
Program tersebut didanai oleh University of Oxford BG & Arboretum serta RIIM Ekspedisi BRIN, dengan tujuan memetakan hubungan kekerabatan seluruh jenis Rafflesia di Indonesia dan Asia Tenggara. Indonesia sendiri diketahui memiliki keragaman Rafflesia tertinggi, yakni 16 jenis, dan 13 di antaranya sudah berhasil dikoleksi sampelnya oleh tim BRIN.
2. Dilaporkan Sudah Mekar di Beberapa Daerah
Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu mencatat bahwa Rafflesia hasseltii pernah ditemukan mekar di Bengkulu, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Awalnya, ekspedisi difokuskan di Desa Tanjung Gelang dan Desa Selamat Sudiarjoo, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Namun, informasi valid mengenai kemunculan bunga ini di Sijunjung, Sumatera Barat, membuat tim bergerak cepat ke lokasi tersebut.
Joko menegaskan bahwa kehadiran peneliti BRIN diperlukan untuk memastikan prosedur ilmiah dijalankan dengan benar. Ia juga menekankan bahwa sampel yang diambil murni untuk kepentingan riset dan tidak dibawa keluar negeri.
3. Ciri Fisik Rafflesia hasseltii
Tanaman ini dikenal dengan nama lokal Cendawan Muca Rimau, yang berarti jamur berwajah harimau—karena bentuknya yang sekilas menyerupai hewan tersebut.
Rafflesia hasseltii termasuk dalam genus Rafflesia dan dapat mekar dengan diameter 30–40 cm. Seperti kerabatnya, bunga ini punya aroma menyengat serta variasi pola dan warna yang cukup beragam.
4. Pernah Digunakan sebagai Obat Tradisional
Dalam jurnal “Conservation of Rafflesia hasseltii Suringar in Bukit Tiga Puluh National Park, Riau-Jambi” karya Ervizal A. M. Zuhud dkk (IPB University), disebutkan bahwa masyarakat Tanah Datar, khususnya Suku Talang Mamak, dulu memanfaatkan Rafflesia hasseltii untuk mengobati luka dan meningkatkan kesuburan wanita. Namun praktik ini kini sudah jarang dilakukan karena tanaman tersebut semakin langka.
5. Habitatnya Terancam
Rafflesia hasseltii tumbuh di hutan hujan tropis Sumatera pada area yang lembap dan berkanopi rapat, membuatnya sulit ditemukan.
Kelangkaannya dipicu oleh kerusakan habitat akibat aktivitas manusia, seperti perladangan berpindah, pencurian kayu, hingga kegiatan perusahaan yang merusak ekosistem.
Sebagai tumbuhan parasit, Rafflesia hasseltii sangat bergantung pada inangnya, yaitu T. lanceolarium, sehingga perubahan pada vegetasi, tanah, dan iklim sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya. (*)

